Perenungan Sejenak (2)
Kapan tepatnya kita kehilangan naluri kanak-kanak yang mulia itu?
Pemandangan yang sebetulnya sangat biasa di Jakarta cukup menarik perhatian. Seorang bapak dengan satu gerobak yang menepi begitu saja di bawah flyover. Pada gagang kayu gerobaknya tergantung seplastik es teh. Dua anak-anak lakinya, kira-kira berumur satu tahun dan dua tahun, asyik bercanda di atas gerobak. Mereka riang sekali, tidak peduli dengan mobil dan motor yang berderet-deret terkena macet. Di atas gerobak -entah untuk sampah atau gerobak angkat kuli air itu- mereka tidak peduli pada kenyataan bahwa ibu kota semakin tidak manusiawi, dikepung gedung-gedung bertingkat dan bangunan pusat perbelanjaan yang gagah gemerlapan sekaligus pongah.
Apakah anak-anak tidak punya rasa iri? Apa yang mereka rasakan ketika melihat anak kecil lain dibelikan mainan lalu masuk mobil mewah bersama orang tuanya yang berkecukupan? Di atas gerobak itu, aku melihat mereka merasa aman dan nyaman bersama bapaknya.
Itu pemandangan yang biasa. Di Jogja, aku kerap melihat anak-anak penjual koran bersama orang tua mereka yang menepi dari jalanan ketika terik. Namun, mungkin baru kali ini aku terusik. Apa mereka pernah menanyakan orang tua mereka alasan mengapa mereka harus kepanasan di jalan sedangkan manusia lain bisa bekerja di ruangan yang nyaman?
Jangan-jangan, anak-anak memang sudah cukup merasa aman ketika bersama bapak atau orang terkasihnya? Mungkin karena lanskap pandangannya masih terbatas , juga pergaulannya masih sempit. Jadi, anak-anak itu cukup tenang ketika ada orang tua, diberi makan, dan punya teman.
Kelak, seiring anak pergi ke sekolah, pergi ke tempat mengaji, barulah mereka berjumpa dengan satu-dua manusia jahat. Anak-anak, dalam perjalanan, bisa saja diejek karena tampilan fisik, kepemilikan benda, level kecerdasan, bahkan karena pita suara yang membuat suara si anak agak aneh.
Anak-anak jalanan itu, dalam perjalanannya, mungkin akan bertemu preman pengemplang, area mengamen, bertemu predator seksual, atau mulai melihat banyak orang kaya yang berakhlak seperti tai.
Kemudian, mereka tidak cukup merasa aman bersama orang tua. Mereka mungkin menciptakan strategi berteman, memusuhi beberapa guru yang tak punya kebijaksanaan, atau bahkan memilih melakukan tindakan-tindakan buruk atau kriminal.
Di beberapa novel atau film, saya jadi paham mengapa ada anak perempuan yang bahkan rela dicabuli bapaknya sendiri selama bertahun-tahun dan atau bahkan tak mau dipisahkan dengan paman durjana yang memerkosanya. Mungkin memang hanya itu semesta paling nyaman yang ia punya. Dunia lain di luar sesuatu yang orang lain pandang suram itu boleh jadi adalah dunia terbaik miliknya.
Waktu dan ruang mengubah naluri keluguan manusia Kita berenang-renang mengambil batas antara membela kemanusiaan dan nasib, sambil bertaruh dan berkompromi untuk banyak hal lain yang terlibat.
Saya lalu menerka, kapan tepatnya kehilangan naluri kanak-kanak yang mulia itu. Sialnya, saya hampir tidak bisa mengingatnya.
Rasanya, sudah terlalu lama hari-hari kita dipenuhi ambisi, kesedihan, rasa tidak cukup, pertanyaan mengapa saya terlahir seperti ini, dan perasaan-perasaan mengusik lainnya.
Komentar
Posting Komentar