Perenungan Sejenak

Tazkiyatun Nafs (Pembersihan/Penyucian Jiwa)

Menyelami Makna Ikhlas dan Menjauhi Riya’ Penyakit Hati`

“Sesungguhnya pekerjaan itu adalah sesuai dengan niat dan manusia akan diganjar sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya untuk mencari dunia atau untuk wanita yang ingin dinikahinya maka pahala hijrahnya sesuai dengan hijrahnya pula.” Hadis Riwayat Muttafaqun Alaih. 

Riwayat di atas menjelaskan bahwa nilai amal seseorang sangat berkait dengan keikhlasan niat hatinya. Lalu, apakah itu ikhlas? Ikhlas adalah menjadikan segala amal perbuatan yang dilakukan hanyalah untuk menggapai ridha Allah SWT, tidak untuk riya’, ujub, atau sum’ah. Seseorang beramal tidaklah untuk dilihat oleh orang lain atau mengharapkan orang-orang berbicara tentang kebaikannya atau untuk dipuji-puji orang lain. Seorang muslim hendaklah ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah SWT tidak akan menerima sebuah amalan yang tidak dilakukan dengan keikhlasan.

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan Salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” Al-Quran Surat Al-Bayyinah ayat 5. “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima sebuah amalan, kecuali itu ikhlas dan hanya untuk mencari keridhaan-Nya.” Hadist riwayat Nasa’i.

Ikhlas merupakan sifat yang harus dilakoni seorang Muslim, jika ia seorang pedagang, ia harus selalu jujur dan takut akan Maha Mengetahui Allah, di samping dari aksi nyata, bahkan Allah sudah mengetahui terlebih dahulu akan niatnya. Bagi seorang murid, keikhasannya terletak pada kesungguhannya dalam belajar dan berusaha untuk mendapatkan ilmu. Ia belajar hanya untuk menggapai ridha Allah SWT dan ilmunya dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ikhlas merupakan sifat para nabi Allah, sebagaimana keikhlasan Nabi Musa a.s., Ibrahim a.s., Ishaq a.s., dan Ya’kub a.s. “Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Quran). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi.” Al-Quran Surat Maryam ayat 51. “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan yang sungguh besar dan ilmu-ilmu (yang sangat tinggi). Sungguh, kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” Al-Quran Surat Shad ayat 45-47.

Dalam sebuah hadist tang diriwayatkan oleh Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya, ia berkata, “Ayahku menyangka bahwa ia memiliki kemuliaan dari pada sahabat Rasulullah Saw. Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan para dhuafa, yaitu dengan doa dan keikhalasan mereka.’.“ Hadist riwayat Nasa’i. Ikhlas adalah menyucikan segala perbuatan hati dari segala keburukan karena segala perbuatan hanya untuk Allah. Ikhlas adalah pemurnian hati dari keburukan sifat-sifatnya dan hendaknya engkau tidak meminta saksi selain Allah dalam setiap apa yang engkau lakukan.

Keikhlasan akan terbangun dengan selalu merahasiakan perbuatan baik dengan sebisa mungkin. Jika amal saleh memiliki akar yang kuat di dalam hati, tersimpan dari manusia, lalu dia akan bersihkan dalam dirinya dan ia sucikan dari segala kotoran, setiap orang yang beramal untuk Allah semata, akan bertambah pula kejujuran dan keikhlasannya. 

Sedangkan, lawan dari pada ikhlas adalah riya’, secara bahasa diartikan sebagai keinginan untuk menunjukkan amal baik. Orang riya’ adalah orang yang suka menunjukkan atau menampakkan sesuatu, tidak ada rasa takut (khusyuk’) dalam hatinya, ia melakukan sesuatu agar orang lain melihatnya, mendengarkannya dari perbincangan orang lain, dan berkeyakinan bahwa dia adalah orang yang taat beragama. Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya, dibawa oleh jiwa yang lemah, yaitu jiwa yang mencari ketenaran dengan dusta dan kebohongan. Orang yang riya’ akan selalu menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di hatinya. Rasulullah mengecam sifat riya’ dalam hadistnya yang berbunyi, “Sesungguhnya serendah-rendahnya riya’ merupakan syirik.” Hadist riwayat Bukhari dan Muslim. 

Imam besar Al-Ghazali mengklasifikasikan riya’ menjadi beberapa bagian. Pertama, riya para ahli agama yang terkait dengan kondisi tubuh, misalnya menampakkan diri dengan kekurusan atau kerampingan tubuhnya, rambutnya acak-acakan, merendahkan suaranya, dan lain sebagainya agar ia tampak oleh orang lain seperti orang benar-benar mendalami agama dan sangat takut akan akhirat. Adapun riyanya para ahli dunia adalah dengan menampakkan kesuburan tubuhnya, kehalusan dan putihnya kulit, kebersihan badannya, kekuatan tubuhnya, dan lain sebagainya. Kedua, riya dalam pakaian dan penampilan. Misalnya mengusut-usut kan rambut kepala, mencukur kumis, ketenangan luar biasa dalam gerakan, menggunakan pakaian wol, dan lain sebagainya atau menampakkan zuhud atau asketisme dengan berpakaian kumal, kotor, pendek, robek, dll. Sedangkan yang ahli dunia adalah dengan memakai pakaian-pakaian mahal, kendaraan-kendaraan mewah, rumah-rumah besar dan mewah, dan sejenisnya. Ketiga, riya’ dalam perkataan. Adalah ketika memberikan nasihat dan kata-kata hikmah. Ia hafal akhbar dan atsar digunakan untuk berdebat agar tampak di depan orang lain, ia adalah orang kaya ilmu. Sedang, ahli dunia dengan menghafal syair-syair, permisalan-permisalan, dan lain sejenisnya untuk mendapatkan simpati orang lain. Keempat, riya’ perbuatan. Contohnya adalah dalam beribadah, memperpanjang berdiri, sujud, dan ruku’ atau dengan menghempaskan kepala. Riya’ ahli dunia adalah berjalan dengan angkuh menggerakkan kedua tangan, pandangan sombong dan memandang rendah orang lain. Kelima, riya’ akan keberadaan teman-teman, tamu, atau kelompok. Yaitu dengan mengunjungi ulama atau ahli-ahli ibadah besar agar terkesan religius.

Bahaya penyakit riya’ adalah ketika menjadi penghalang di dalam hati, syahwat jiwa yang mengguncang hati tatkala ia penuh dengan puji-pujian. Lalu, hati itu akan merasakan puji-pujian itu. Bagi orang yang mampu memadamkan syahwat jiwanya, mampu mengubah rasa kebenciannya, memikirkan bagaimana dirinya di hari Kiamat kelak, serta mengingat akan amalannya yang menurun, dan kebutuhannya akan kebaikan. Dirinya hanya akan menerima amal-amalan murni. Ada rasa takut akan kemurkaannya terhadap murka Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat... ketika itulah amalannya menjadi murni atau ikhlas.

Cara untuk menghilangkan sifat riya’ dalam diri manusia adalah hanya dengan sifat rendah hati atau tawadhu’, yaitu dengan menyadari bahwa pencipta alam semesta adalah Allah SWT. Ia juga sadar bahwa dirinya tidak akan memiliki kemampuan untuk melakukan apapun, kecuali atas kehendak Allah SWT. Akhirnya, kecintaan pada dirinya akan berubah untuk kecintaan terhadap Allah SWT, demi mendapatkan sepenuhnya ridha Allah SWT. 

Komentar

Postingan Populer