Story Telling
Sehari yang lalu, saya mendapatkan tugas yang masih bikin anget pikiran, dapat instruksi dari dosen untuk story telling. Namun sebenarnya sudah ada awalan cerita satu paragraf dari sang dosen supaya dilanjutkan dan lagi pela ini juga tugas kelompok bersama teman-temanku yang harus mengisi cerita setiap paragraf. Jadi sebenarnya juga bukan cerita yang sangat spesial menarik apalagi terbaik maupun yang terburuk. Bukan kisah inspiratif maupun motivasional, atau pun juga penuh syarat pesan moral etika. Tapi ini cerita yang sebenarnya bisa dikatakan tidak ada harga dirinya lagi sih hahahah. Cerita ini sebenarnya dekat sekali dengan kita kawula muda, anak muda generasi millenial Revolusi industri 4.0. Indonesia Maju wkwkwkw. Aku ibaratkan dengan video YouTube kita yang ada di beranda, ada di puncak teratas hasil kemunculan kerja sistem algoritma Google. Ceritanya tentang kita sesama menjadi pelajar/mahasiswa yang mana memiliki masalah keluh kesah kita berangkat ke kampus atau sekolah. Pembawaannya juga memakai bahasa gaul sehari-hari kita. Aku jadi gak tahu lagi deh rasanya nanti pembaca membaca cerita ini setelah aku deskripsikan panjang lebar cerita ini pada awalnya. Jadi ini bentuk asli ceritanya. Dan aku mau buat sendiri pada halaman lainnya namun masih dengan tema dan awalan setting yang sama.
Instruksi:
Lanjutkanlah sepenggal cerita berikut, masing-masing orang mengerjakan satu paragraf (minimal 3 kalimat per paragraf). Alur cerita harus koheren dengan paragraf-paragraf sebelumnya. No SARA. Deadline tanggal 09-03-2020 pukul 23.55.
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing berdenyut-denyut. Anehnya aku tidak merasa tadi malam aku tertidur dengan posisi leher yang salah atau apapun. Nyerinya semakin bertambah tiap kali aku bergerak, bahkan ketika hanya sekedar mengambil gelas untuk minum air putih. Kupijat pelipis kiri dan kananku agar setidaknya nyerinya berkurang. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan dengan cepat menengok ke arah jam dinding. Jarum-jarumnya menunjukkan pukul 7.40. “Gawat!” spontan aku berteriak. “Aku hari ini ada presentasi jam 8!” Lalu dengan setengah berlari aku menuju kamar mandi. (paragraf dosen)
Aku mandi dengan cepatnya, seperti sedang ditagih hutang oleh Debt Collector. Waktu yang ku punya hanyalah 20 menit untuk mandi dan bersiap-siap menuju kampus. Baru hari ini, aku harus merasakan berjibaku dengan waktu. Selesai mandi, aku segera memakai pakaian dan jaket kesukaanku untuk pergi ke kampus. Ya, tipe jaket Dilan lah yang aku suka. Setelah beberapa waktu lalu, film Milea: Suara dari Dilan (2020) tayang di bioskop - bioskop seluruh Indonesia. “Ah, sudahlah. Aku malah memikirkan film Milea kemarin.” Pikirku. Waktu tersisa 10 menit, “Aku segera ke kampus sekarang!” Suaraku, sambil mengeluarkan motor dari garasi.(paragraf temanku)
Langsung segera ku stater Si Ganteng--nama motorku--Honda Astrea tua yang dibelikan Ayah saat aku SMA dulu. Tidak ada perubahan. Aku coba lagi. Si Ganteng tetap tidak berkutik, hanya mengeluarkan suara-suara aneh. Kucoba sekali lagi dengan lebih keras. “DUAARRR!” terdengar bunyi ledakan dari mesin motor membuatku sedikit terkejut, namun rasa kaget itu segera hilang setelah aku melihat jam tanganku, pukul 7:55. Aku memekik, “Ah, sial!” langsung kutinggalkan Si Ganteng begitu saja, aku keluar dari garasi dan mulai berlari menuju kampus. Aku tidak punya uang, dan aku juga tidak punya cukup waktu untuk mencari angkutan umum lainnya. “Apapun yang terjadi hari ini, aku siap!” kataku dalam hati, menyemangati diriku sendiri. (paragraf temanku, ngakak bacanya hahahahah)
Si Ganteng memang tak bisa diandalkan hari ini. “Sial! B*ngs*t!!!” teriakku sambil mulai keluar garasi rumahku. Aku masih teringat selalu dengan prinsip jalan ninjaku ketika aku berangkat kuliah di kota perantauan ini. Aku memang orang yang selalu terlambat. Akan tetapi aku teringat pesan ayahku yang sudah meninggal. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” Aku jadi langsung terharu. Semangatku membara tiba-tiba seperti Naruto dalam latihannya bersama guru Jiraiya mengejar ambisinya menjadi hokage. Tanpa pikir panjang, aku berlari merasakan sensasi seperti bintang iklan Pocari Sweat, berlari secepatnya menuju kampus. (ini tulisanku sih sambil kobam aowokwokwokwok)
Sesampainya di kampus, aku sudah disambut oleh dosen bermuka garang. Dia bertanya “ Kenapa anda bisa terlambat? ”. “Aaannnuuu….iittuuu...hmmmm…. Iinnii pak, motor saya rusak.” kataku dengan gemetaran. Dosenku marah besar dan mengusirku keluar kelas. “Apakah anda tau aturan kelas kita?, jika anda terlambat 30 menit, anda tidak boleh masuk kelas. Jadi…. Sekarang KELUAR DARI KELAS SAYA !.”. Aku pun keluar kelas beliau dengan hati yang hampa dan semua kerja usaha ku ini sia-sia. Pada akhirnya aku pun duduk termenung di lobby kampus. (tulisan temanku juga, YAH GATOT COYY HAHAHAHAHAHAHAH)
Yah gak jadi plot twist… selain sebenarnya gak nyambung dengan paragraf awal juga kuncinya sebenarnya di ending-nya tapi malah datar kek ubin masjid wkwkwk (aku juga males ngeditnya lagi wkwkwk).
Komentar
Posting Komentar